Karso | : | “Tadi kulihat anakmu di jalan, kemana lagi dia, Lim?” |
Salim | : | “Berangkat les, So. Ikut bimbangan belajar di luar” |
Karso | : | “Bukankah baru pulang dari sekolah ? Kasihan |
Salim | : | “Dia sendiri yang meminta, aku tidak pernah memaksa.” |
Karso | : | “Apa anak-anak sekarang merasa sekolah itu masih kurang.” |
Salim | : | “Bukan masih kurang, So. Tapi tuntutan bahwa standar kelulusan selalu naik tiap tahunnya membuat ilmu pengetahuan perlu ditingkatkan salah satunya dengan ikut bimbel.” |
Karso | : | “Bukan itu pula maksudku, Lim.” |
Salim | : | “Bahwa kenyataan di tempat bimbingan belajar mempunyai cara-cara, rumus-rumus, dan formula-formula yang lebih cepat dan praktis dalam memecahkan soal, juga menjadi alternatif. Lalu maksudmu yang bagaimana lagi?” |
Karso | : | “Begini, Lim. Kalau anak-anak lebih memilih untuk belajar di tempat les, di lembaga bimbingan belajar semacam itu, berarti di sekolah mereka tidak mendapat apa yang mereka cari.” |
Salim | : | “Di sekolah sudah dapat, So. Di tempat les itulah ditambah dan diberikan cara-cara yang cepat dan praktis itu tadi.” |
Karso | : | “Apa di sekolah tidak mendapatnya secara keseluruhan. Apa fungsi sekolah! Apakah sekolah menyembunyikan rumus-rumus tertentu, pengetahuan-pengetahuan tertentu, dan mengatakan kepada anak didiknya bahwa hal itu bisa didapat di luar; di lembaga bimbingan belajar.” |
Salim | : | “Emmhh.....” |
Karso | : | “Seandainya aku seorang guru, justru aku merasa malu jika ada anak didikku yang les di luar. Itu berarti bahwa aku sebagai seorang guru belum mampu untuk memberikan kepada mereka pengetahuan yang optimal.” |
Salim | : | “Tapi keterbatasan jam sekolah menjadikan hambatan, So.” |
Karso | : | “Itulah, sebagai guru harus bisa mengoptimalkan kemampuannya dalam mendidik para muridnya.” |
Salim | : | “Benar juga, tapi....” |
Karso | : | “Kalau seorang guru di depan kelas hanya menyampaikan pelajaran seadanya dan mendorong kepada muridnya untuk ikut bimbel, itu malah menjadikan kontra-produktif.” |
Salim | : | ”Tapi keinginan untuk ikut bimbel biasanya atas inisiatif para murid sendiri.” |
Karso | : | “Tapi bagaimana dengan murid yang orang tuanya belum tentu mampu untuk mengikutkan anaknya les. Les itukan butuh biaya juga.” |
Salim | : | “Lalu?” |
Karso | : | “Ya guru pula yang harus berperan. Jika memang di lembaga bimbingan belajar itu diberikan cara-cara yang cepat dan praktis, maka di sekolahpun harus demikian. Jadi semua siswa tanpa terkecuali mendapat pelajaran tanpa ada yang tersembunyi. Jadi bagi mereka yang tidak ikut les, mungkin karena alasan biaya, tidak merasa berkecil hati.....” |
Salim | : | “Dan mereka yang ikut les, lebih baik keluar saja karena sudah mendapat semuanya di sekolah.” |
Karso | : | “Begitu, Lim” |
Salim | : | “Tapi jika semuanya sesuai pernyataanmu itu, tentunya akan mematikan lembaga bimbingan belajar yang banyak menjamur sekarang ini. Banyak orang yang menggantungkan hidup dari berdirinya lembaga bimbingan belajar.” |
Karso | : | “Sebagian pengajar yang ada di lembaga-lembaga itu kebanyakan adalah guru-guru di sekolah juga.” |
Salim | : | “Bagaimana dengan yang tidak?! Bahkan mereka itu mempunyai terobosan-terobosan yang inovatif dalam mengajar dan cara-cara yang efektif dalam memecahkan soal-soal.” |
Karso | : | “Itu bisa menjadikan tantangan dan cambuk bagi para guru di sekolah. Jangan sampai kalah dengan para pengajar-pengajar di lembaga bimbingan belajar.” |
Salim | : | “Nah, alangkah baiknya bila hal ini menjadikan persaingan yang sehat untuk menambah pengetahuan anak didik kita.” |
Karso | : | “Tapi perlu diingat, Lim. Bahwa sekolah tetap yang utama dalam menjalankan peran ini. Ibaratnya, ada atau tidak ada lembaga bimbingan belajar, para murid harus mendapat pengetahuan secara keseluruhan yang telah menjadi haknya dan sekolah melalui para guru harus memberikannya.” |
Salim | : | “Iya, So. Eh, tapi darimana kamu ini? Kulihat tadi memboceng anakmu.” |
Karso | : | “Ooh....ini tadi habis mengantar anakku ke tempat les.” |
Dari Perbincangan Karso dan Salim
kategori:
idea
Membuat Nyala Api Warna-Warni
Adalah dengan menambahkan bahan-bahan yang dapat memancarkan warna cahaya tertentu ketika mengalami panas.
Ketika kita melemparkan sebuah atom ke dalam nyala sebuah api, atom itu dapat mengambil sebagian energi api dengan membuat elektron-elektronnya bergerak lebih cepat. Cara termudah adalah dengan melepaskan energi lebihan tersebut dalam bentuk semburan cahaya. Setiap jenis atom memiliki seperangkat energi elektron yang unik, maka tiap jenis atom dalam nyala api akan mengambil dan melemparkan kembali jumlah energi yang unik pula, dan tentunya memancarkan panjang gelombang atau warna cahaya yang berbeda.
Beberapa jenis atom dalam bentuk senyawa kimia masing-masing yang biasa digunakan untuk membuat warna-warna dalam kembang api, antara lain:
- Merah: stronsium (merah tua keunguan), Kalsium (merah kekuningan), Lithium (merah tua keunguan)
- Kuning: Natrium (kuning tua)
- Hijau: Barium (hijau kekuningan), Tembaga (hijau zamrud), Telurium (hijau rumput), Thalium (hijau kebiruan), Seng (hijau keputihan)
- Biru: Tembaga (biru langit cerah), Arsenikum (biru muda), Timbal (biru muda), Selenium (biru muda)
- Ungu: Cesium (ungu kebiruan), Kalium (ungu kemerahan), Rubidium (ungu)
Bisa dicoba. Jika berkesempatan membuat api unggun, cobalah taburkan sedikit garam atau bisa juga natrium bikarbonat (soda kue) ke dalam api, maka akan dapat kita saksikan nyala kuning cemerlang. Jika ada bahan kalium klorida, taburkan bahan tersebut untuk dapat menyaksikan nyala ungu kemerahan.
Jangan dibayangkan. Jika bom yang digunakan oleh para pengebom (baca: teroris, karena biasanya teroris menggunakan bom untuk membuat semuanya kacau) dibuat dengan dapat menghasilkan warna-warni, tentunya dengan ledakannya yang dashyat akan menghasilkan hujan nyala beraneka warna yang menjadi kembang api menakutkan yang tidak diharapkan. Tentunya jangan. Alangkah baiknya bila aksi-aksi terorisme semacam pengeboman bisa dicegah di negeri tercinta ini.
kategori:
learn
