Air dapat membawa berkah, air juga dapat membawa musibah. Apa yang ingin didapat dari air? Berkah tentunya. Untuk itu haruslah diperlukan kesadaran yang tinggi untuk menjaga air dengan baik. Sayangi air! bayangkan bila tidak ada air, bagaimana bisa membersihkan diri. Sedangkan banyak tempat di dunia ini yang masih mengalami krisis air bersih.
Hujan & Petir
Apa yang sebaiknya bila hujan datang? Berteduh sudah tentu. Tapi jika berada di dalam rumah apa perlu berteduh? Kecuali kalau atap bocor, sepertinya harus sibuk menyiapkan ember.
Selain itu? Payung atau mantel! Kalau tidak akan berpergian ke luar rumah, mengapa mempersiapkan payung dan mantel.
Di musim hujan seperti sekarang ini, hujan dipastikan turun setiap hari. Yang harus dipersiapkan bisa juga kondisi badan agar tetap fit menghadapi kondisi cuaca.
Hujan bisa mengundang datangnya bencana. Apa yang harus disiapkan? Membersihkan lingkungan. Tentu ini sangat tepat agar tidak tejadi banjir. Selain itu jangan merusak hutan supaya tidak terjadi tanah longsor.
Hal-hal tersebut merupakan langkah yang benar untuk mengantisipasi hujan. Akan tetapi ada satu hal lagi yang perlu dipersiapkan, yaitu bila hujan turun disertai kilat yang menyambar-nyambar dan petir yang menggelegar.
Pertanda akan terjadi angin puting beliung atau badai topan? Bisa jadi.
Menjauh dari lapangan terbuka, menjauh dari pohon menjulang, matikan TV agar antena tidak tersambar? Boleh juga.
Ada satu hal lagi bila ada petir, bisa jadi kejatuhan batu seperti yang dialami Ponari, bocah asal Jombang.
Ingin tahu apa sebenarnya Batu Petir seperti yang dimiliki Ponari itu? Maaf ya, kurang tahu nih.
[(----------~:::posting#keroyokan:::~----------)]
Selain itu? Payung atau mantel! Kalau tidak akan berpergian ke luar rumah, mengapa mempersiapkan payung dan mantel.
Di musim hujan seperti sekarang ini, hujan dipastikan turun setiap hari. Yang harus dipersiapkan bisa juga kondisi badan agar tetap fit menghadapi kondisi cuaca.
Hujan bisa mengundang datangnya bencana. Apa yang harus disiapkan? Membersihkan lingkungan. Tentu ini sangat tepat agar tidak tejadi banjir. Selain itu jangan merusak hutan supaya tidak terjadi tanah longsor.
Hal-hal tersebut merupakan langkah yang benar untuk mengantisipasi hujan. Akan tetapi ada satu hal lagi yang perlu dipersiapkan, yaitu bila hujan turun disertai kilat yang menyambar-nyambar dan petir yang menggelegar.
Pertanda akan terjadi angin puting beliung atau badai topan? Bisa jadi.
Menjauh dari lapangan terbuka, menjauh dari pohon menjulang, matikan TV agar antena tidak tersambar? Boleh juga.
Ada satu hal lagi bila ada petir, bisa jadi kejatuhan batu seperti yang dialami Ponari, bocah asal Jombang.
Ingin tahu apa sebenarnya Batu Petir seperti yang dimiliki Ponari itu? Maaf ya, kurang tahu nih.
[(----------~:::posting#keroyokan:::~----------)]
Pemilu Online dan Mencontreng

Pemilu segera datang dengan cara baru. Tapi tetap saja seperti yang sudah-sudah pemilih mendatangi TPS-TPS dan memberikan hak suaranya melalui lembaran kertas. Belum ada inovasi untuk menggelar Pemilu secara online. Negara pertama yang menerapkan sistem online dalam pemilihan umum adalah Estonia. Padahal negara tersebut merupakan salah satu negara termiskin di Uni Eropa. Pemilu tersebut diadakan pada 4 Maret 2007, dengan total pemilih di Estonia berjumlah 940.000 orang.
Bagaimana kalau ini diterapkan di Indonesia? Sepertinya masih jauh. Jumlah penduduk dan luas wilayah Indonesia sepertinya kurang mendukung. Belum lagi kualitas masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya melek komputer.
Kembali pada cara pemungutan dengan sistem contreng. Hal baru ini sepertinya akan menghadirkan banyak kreasi para pemilih. Kreasi seperti apa? Pemilih yang apatis dan skeptis dengan Pemilu, bisa saja mengungkapkan kreasinya dengan memakai alat tulis yang disediakan bukan untuk mencawang caleg pilihannya. Bisa saja mereka menulisi kertas suara dengan nama mereka sendiri (atau nama artis idolanya, atau nama nama mantan pacarnya) dan kemudian mencawangnya. Bisa juga untuk menggambar lambang partai kreasinya sendiri (kalau seperti ini mungkin partainya tidak lolos kualifikasi KPU) Atau bisa juga dengan alat tulis yang disediakan menambahkan sesuatu pada foto untuk kertas suara DPD seperti menambahkan kumis, jenggot, anting atau apa saja. Selain itu juga bisa dengan menggambar foto dirinya sendiri (kalau yang begini namanya kelewat narsis) Yah, sepertinya petugas KPPS harus siap dengan semua ini. Tapi mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi dan postingan ini tidak untuk menganjurkan berbuat seperti itu.
Bagaimana kalau ini diterapkan di Indonesia? Sepertinya masih jauh. Jumlah penduduk dan luas wilayah Indonesia sepertinya kurang mendukung. Belum lagi kualitas masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya melek komputer.
Kembali pada cara pemungutan dengan sistem contreng. Hal baru ini sepertinya akan menghadirkan banyak kreasi para pemilih. Kreasi seperti apa? Pemilih yang apatis dan skeptis dengan Pemilu, bisa saja mengungkapkan kreasinya dengan memakai alat tulis yang disediakan bukan untuk mencawang caleg pilihannya. Bisa saja mereka menulisi kertas suara dengan nama mereka sendiri (atau nama artis idolanya, atau nama nama mantan pacarnya) dan kemudian mencawangnya. Bisa juga untuk menggambar lambang partai kreasinya sendiri (kalau seperti ini mungkin partainya tidak lolos kualifikasi KPU) Atau bisa juga dengan alat tulis yang disediakan menambahkan sesuatu pada foto untuk kertas suara DPD seperti menambahkan kumis, jenggot, anting atau apa saja. Selain itu juga bisa dengan menggambar foto dirinya sendiri (kalau yang begini namanya kelewat narsis) Yah, sepertinya petugas KPPS harus siap dengan semua ini. Tapi mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi dan postingan ini tidak untuk menganjurkan berbuat seperti itu.
kategori:
fun
