Apa kabarmu Indonesia? Telah lama tidak
berbincang tentangmu.
Banyak yang ingin aku
tahu darimu; tentang apa yang disebut demokrasi; tentang pemberantasan korupsi,
telah sejauh mana? dan; tentang manipulasi; tentang reformasi yang
didengung-dengungkan, termasuk reformasi birokrasi; tentang praktik kolusi juga
konspirasi jahat; tentang politisasi yang konon telah melanda segala aspek, katanya
pendidikan dipolitisasi, kesenian dipolitisasi, sampai olahraga juga
dipolitisasi, apa memang sejauh itu?; tentang partai koalisi dan partai
oposisi, apakah selalu berseberangan?; tentang supremasi, supremasi hukum
tentunya; tentang gejala anti toleransi; tentang diskriminasi; tentang disintegrasi; tentang maraknya
demontrasi; tentang kejahatan korporasi; tentang iklim investasi; tentang lemahnya
inovasi dan kreasi; tentang merosotnya produksi; tentang apa saja, tentang
sarana transportasi, tentang upaya reboisasi, tentang pesatnya arus informasi
dan komunikasi, tentang rencana denominasi mata uangmu, tentang tingkat
inflasi, tentang tempat rekreasi, pokoknya semua tentang situasi dan kondisi
saat ini.
Ini bukan tentang
keirian pada Malaysia, bukan kecaman terhadap Syria, bukan tuduhan kepada
Amerika, bukan simpati untuk Palestina, bukan kebencian pada Israel, juga bukan
tentang konflik India dengan Pakistan, bukan pula antara Korea Utara dengan
Korea Selatan, bukan tentang krisis ekonomi di Eropa, bukan tentang kemiskinan
di belahan Afrika. Tapi yang ingin aku tahu adalah tentangmu, Indonesia.
Bicara tentangmu,
mengenai situasi dan kondisi, semoga saja tidak terjadi dekadensi. Tapi katanya
ada terjadi pengekangan kehendak, tapi katanya lagi di sisi lain ada kebebasan
yang sampai kebablasan. Harusnya semua sama, tidak ada yang diutamakan tidak
ada yang dipinggirkan. Harusnya antara kewajiban dan hak mendapat porsi yang
selayaknya, namun katanya hal ini tidak berjalan semestinya. Katanya penjarahan
terhadap hartamu semakin menjadi. Bahkan yang melakukannya adalah mereka yang
dipercaya mengelolanya. Katanya cara
yang digunakan juga semakin beragam, bahkan terjadi dimana-mana, dan semakin
membiasa. Harusnya ini segera ditindak. Tapi katanya yang menindak juga tidak
dipercaya. Katanya perubahan-perubahan yang lama diidam-idamkan tidak kunjung
terlaksana. Tidak ada bedanya dan seakan-akan tidak ada gunanya melakukan
perubahan, karena perubahannya tidak ada. Itu namanya tetap saja. Atau malah
berubah menjadi lebih buruk. Katanya adapula persekongkolan yang membuatmu
tidak dalam keadaan baik-baik saja. Harusnya hal semacam ini dapat hilang
seiring perubahan yang ingin kau lakukan. Tapi itu tadi, perubahan itu tidak
kunjung terjadi bahkan terjadi perubahan ke arah yang lebih buruk. Katanya
elit-elitmu juga semakin tidak akur. Sikut-sikutan bahkan saling tendang,
memikirkan kehendak kelompoknya sendiri bahkan dirinya sendiri. Lupa akan
keinginanmu untuk maju bersama-sama. Katanya lagi mereka itu suka mencampur
adukkan hal-hal lain ke ranah mereka yang kotor demi kepopuleran mereka semata.
Harusnya tidak perlulah berlebih-lebihan seperti itu, apalagi kalau itu
semata-mata untuk mencari ketenaran. Katanya ada yang tidak adil dalam dalam
dirimu, katanya materi dapat mempengaruhi azas-azas keadilan ini, katanya ada
golongan-golongan tertentu yang bisa kebal dan golongan-golongan tertentu yang
jadi tumbal. Harusnya semuanya sejajar, sama rata. Katanya dirimu semakin
terpecah-pecah karena banyak perebedaan. Katanya lupa untuk menghargai
perbedaan. Harusnya dapat dimaklumi bahwa memang berbeda adanya namun justru
hal itulah yang membuat dirimu bisa disebut bersatu. Harusnya juga jangan
sampai ada yang ingin memisahkan diri darimu, jagalah baik-baik persatuanmu. Katanya
ada pula hal-hal buruk lainnya yang terjadi padamu, bahkan katanya sangat
banyak, mengenai keterbelakangan, sempitnya kesempatan kerja, kerusakan alam, kriminalitas,
terorisme, rendahnya daya saing, sangat banyak sekali, meskipun aku juga
mendengar hal-hal baik yang luar biasa juga ada padamu. Akan tetapi itu hanya katanya, katanya, dan
katanya saja. Yang ingin aku tahu, sebenarnya yang sesungguhnya terjadi itu
seperti apa? Dan aku ingin menjadi
bagian dari dirimu, bukan kamu untukku melainkan aku untukmu. Dan atas situasi
dan kondisi yang katanya sedang tidak baik-baik saja, aku akan terus
menyertaimu dengan doa-doa yang senantiasa kupanjatkan padaNYA.